Tampilkan postingan dengan label Manajemen Diri. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Manajemen Diri. Tampilkan semua postingan

Jumat, 13 Januari 2012

Agar Tetap Istiqomah


Bagaimana agar kita tetap istiqomah dalam bertaqwa pada jaman sekarang ini karena sekarang banyak sekali godaannya, terutama dengan semakin majunya peradaban jaman..?
Assalamu'alaikum, Aaya ingin bertanya dalam rubrik ini. 1. Bagaimana untuk meyakinkan bahwa semua kebaikan dan kejahatan itu adalah atas kehendak Allah swt..? 2. Bagaimana agar kita tetap istiqomah dalam bertaqwa pada jaman sekarang ini karena sekarang banyak sekali godaannya, terutama dengan semakin majunya peradaban jaman..? Wassalam M. Tohir รข€“ Tangerang
--------- Jawab ---------
1. Pernyataan Anda perlu saya luruskan dengan keterangan sbb:
Pertama, Allah menurunkan ajaran yang fithri/alami/natural (karenanya tidak bisa disebut sebagai beban) demi kebaikan/kebahagiaan manusia; Kedua, Allah menghendaki agar ajaran itu dilaksanakan sebaik-baiknya; Ketiga, namun begitu Allah menyerahkan pada manusia mau menerima perintah itu atau tidak, manusia harus berusaha sendiri untuk melaksanakan ajaran tsb. Jadi tidak bisa dikatakan bahwa kejahatan (dengan arti kemaksiatan) itu kehendak Allah swt. Coba Anda renungi ayat berikut: "Dan katakanlah: 'Kebenaran itu datangnya dari Tuhanmu; maka barangsiapa yang ingin (beriman) hendaklah ia beriman, dan barangsiapa yang ingin (kafir) biarlah ia kafir'. Sesungguhnya Kami telah sediakan bagi orang-orang zalim itu neraka, yang gejolaknya mengepung mereka. Dan jika mereka meminta minum, niscaya mereka akan diberi minum dengan air seperti besi yang mendidih yang menghanguskan muka. Itulah minuman yang paling buruk dan tempat istirahat yang paling jelek. (QS. Al-Kahfi/18:29) Perlu ditegaskan di sini adanya perbedaan antara kejahatan dengan arti madharat/balaa', dan kejahatan dengan arti kemaksiatan. Pada hakekatnya memang satu, tapi dua. Jelasnya demikian, pencurian adalah tindakan kejahatan, baik dari sisi pencuri atau orang yang tercuri. Tapi bila kita kaitkan dengan istilah madharat/balaa' dan maksiat, maka akan jelas perbedaannya: si pencuri melakukan kemaksiatan (pencurian), dan si tercuri terkena madharat (pencurian). Dan tindakan mencuri (kemaksiatan) sama sekali bukan kehendak Allah. Nah, orang yang tertimpa madharrat atau balaa' tidak berarti tertimpa kejelekan. Renungkan hadis Nabi berikut: Seseorang mengeluh ke Rasulullah: "Wahai Rasul, harta saya hilang dan badan saya sakit." Jawab beliau: "Kebaikan (keberuntungan) itu tidak terdapat pada orang yang hartanya tidak hilang dan badannya tidak sakit. Karena sesungguhnya, jika Allah memang mencintai seorang hamba Allah menurunkan cobaan padanya lantas membekalinya kesabaran." Hadis ini menyiratkan bahwa kejelekan/keburukan itu bukanlah identik dengan kenikmatan duniawi. Tapi kebaikan adalah kesabaran itu sendiri. 2. Sebelum membahas bagaimana tetap Istiqamah dalam bertakwa, perlu Anda ketahui mengenai apa sebenarnya taqwa itu (mena'ati perintah dan menjauhi larangan Allah Swt). Saya hanya ingin menegaskan bahwa taqwa itu tidak hanya berkaitan dengan hal-hal yang bersifat ibadah murni, seperti shalat, puasa, zakat, dll. Tapi taqwa juga meliputi hal-hal yang sifatnya duniawi, asal itu baik dan bermanfaat. Kita menekuni apa yang menjadi hobi dan keahlian kita kendati itu hanya semata bersifat duniawi namun bermanfaat bagi semua makhluk di bumi ini juga taqwa. Sebab Allah melarang tindakan-tindakan yang berakibat pada rusaknya lingkungan, dan Allah juga menegaskan agar kita jangan sampai melupakan persoalan-persoalan duniawi yang menopang kemaslahatan hidup kita di dunia. Singkatnya, orang Islam itu harus jaya di dunia dan jangan sampai melupakan akheratnya. Oleh karena demikian luasnya wilayah taqwa, maka dengan sendirinya problem istiqamah juga tidak sama. Jika problem istiqamah Anda menyangkut hal 'ibadah, misal Anda sesekali berani melanggar perintah agama, seperti shalat, puasa, dll), Anda perlu meningkatkan wawasan keakhiratan. Sebab kebanyakan faktor yang memnyebabkan terputusnya kontinyuitas/istiqamahnya suatu kegiatan (baik kegiatan duniawi atau ukhrawi) tiada lain adalah minimnya wawasan. Setidaknya yang bisa Anda lakukan sendiri adalah menghidupkan kesadaran akan adanya kehidupan sesudah mati atau kehidupan akherat. Saya kira semua orang Islam meyakini adanya kehidupan akherat, hanya saja kenyataannya tidak sedikit orang-orang yang lupa akan hal itu. Mereka terlelap dalam kenikmatan duniawi. Maka orang seperti ini perlu disadarkan mengenai kehidupan akherat, di mana orang yang sebagian besar hidupnya penuh ketaatan akan masuk surga dan bila didominasi kemaksiatan akan masuk neraka. Bertanya-tanyalah dalam hati Anda: apa sebenarnya tujuan hidup Anda? Apa hanya ingin cukup dengan kenikmatan duniawi? dengan semata melimpahnya harta-dunia apakah ketenangan batin bisa didapat? tidakkah batin akan tenang dengan menaati perintah-perintah agama, berdzikir/mengingat Allah? Kalau pertanyaan-pertanyaan (muhaasabah) seperti ini belum mempan juga, sering-seringlah memikirkan "seandainya besok aku mati". Dan jika hati Anda sudah tergerak untuk rajin melakukan ibadah, hanya saja Anda menghadapi problem lain, misal kurang mengetahui cara-cara ibadah denganbenar, Anda harus bertanya ke ahlinya. Dan jika problem istiqamah itu menyangkut soal keduniaan, maka kita perlu meningkatkan wawasan/ilmu pengetahuan tentang keduniaan. Yang bisa Anda lakukan mula-mula adalah menetapkan program, rencana-rencana, dan target. Anda juga harus meningkatkan kedisiplinan, kesungguhan, dan ketulusan. Bangunlah kesadaran bahwa diri kita juga harus memberi manfaat pada orang lain. Sebab sebaik-baiknya manusia adalah orang yang paling bermanfaat bagi lingkungannya. Untuk melengkapi tema istiqamah, berikut ini saya ambilkan tulisan Dr. Nurcholish Madjid yang berjudul "Istiqamah Di Zaman Modern" dalam bukunya Pintu-Pintu Menuju Tuhan. *** ISTIQAMAH DI ZAMAN MODERN Istiqamah artinya teguh hati, taat asas, atau konsisten. Meskipun tidak semua orang bisa bersikap istiqamah, namun memeluk agama, untuk memperoleh hikmahnya secara optimal, sangat memerlukan sikap itu. Allah menjanjikan demikian: "Dan seandainya mereka itu bersikap istiqamah di atas jalan kebenaran, maka pastilah Kami siramkan kepada mereka air yang melimpah." (QS. Al-Jinn/72:16). Air adalah lambang kehidupan dan lambang kemakmuran. Maka Allah menjanjikan mereka yang konsisten mengikuti jalan yang benar akan mendapatkan hidup yang bahagia. Tentu saja keperluan kepada sikap istiqamah itu ada pada setiap masa, dan mungkin lebih-lebih lagi diperlukan di zaman modern ini. Karena kemodernan (modernitas, modernity) bercirikan perubahan. Bahkan para ahli menyebutkan bahwa kemodernan ditandai oleh "perubahan yang terlembagakan" (institutionalized change). Artinya, jika pada zaman-zaman sebelumnya perubahan adalah sesuatu yang "luar biasa" dan hanya terjadi di dalam kurun waktu yang amat panjang, di zaman modern perubahan itu merupakan gejala harian, dan sudah menjadi keharusan. Lihat saja, misalnya, perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi, terutama teknologi microchip (harfiah: kerupuk kecil) dalam teknologi elektronika. Siapa saja yang mencoba bertahan pada suatu bentuk produk, baik dia itu produsen atau konsumen, pasti akan tergilas dan merugi sendiri. Karena itulah maka "Lembah Silikon" atau Silicon Valley di California selalu diliputi oleh ketegangan akibat kompetisi yang amat keras. Adanya kesan bahwa "perubahan yang terlembagakan" itu tidak memberi tempat istiqamah adalah salah. Kesalahan itu timbul antara lain akibat persepsi bahwa istiqamah mengandung makna yang statis. Memang istiqamah mengandung arti kemantapan, tetapi tidak berarti kemandekan. Melainkan lebih dekat kepada arti stabilitas yang dinamis. Dapat dikiaskan dengan kendaraan bermotor: semakin tinggi teknologi suatu mobil, semakin mampu dia melaju dengan cepat tanpa guncangan. Maka disebut mobil itu memiliki stabilitas atau istiqamah. Dan mobil disebut dengan stabil bukanlah pada waktu ia berhenti, tapi justru ketika dia melaju dengan cepat. Maka begitu pula dengan hidup di zaman modern ini. Kita harus bergerak, melaju, namun tetap stabil, tanpa goyah. Ini bisa saja terwujud kalau kita menyadari dan meyakini apa tujuan hidup kita, dan kita dengan setia mengarahkan diri kepadanya, sama dengan mobil yang stabil terus melaju ke depan, tanpa terseot ke kanan-kiri. Lebih-lebih lagi, yang sebenarnya mengalami "perubahan yang terlembagakan" dalam zaman modern ini hanyalah bidang-bidang yang bersangkutan dengan "cara" hidup saja, bukan esensi hidup itu sendiri dan tujuannya. Ibarat perjalanan Jakarta-Surabaya, yang mengalami perubahan hanyalah alat transportasinya, mulai dari jalan kaki, sampai naik pesawat terbang. Tujuannya sendiri tidak terpengaruh oleh "cara" menempuh perjalanan itu sendiri. Maka ibarat mobil yang stabil yang mampu melaju dengan cepat, begitu pula orang yang mencapai istiqamah tidak akan goyah, apalagi takut, oleh lajunya perubahan. Dia hidup dinamis, berjalan di atas kebenaran demi kebenaran, untuk sampai akhirnya kembali kepada Tuhan, sang Kebenaran Mutlak dan Abadi. Dan kesadaran akan hidup menuju Tuhan itulah yang akan memberi kebahagiaan sejati sesuai janji Tuhan di atas. *** Semoga bermanfaat.
Sumber: www.pesantrenvirtual.com

Minggu, 03 April 2011

Mengatasi Rasa Bimbang

Rasanya realitas rasa bimbang tidak pernah lepas dari pandangan mata, perasaan hati, gejolak jiwa dan wacana-wacana yang berkembang disekitar kita.

Pilihan yang terlalu banyak, produk yang memborbardir, pilihan hidup yang abu-abu. Memicu perasaan, menekannya dan menciptakan suasana dramtis. Sehingga kita lebih mudah merasabimbang yang luar biasa. Bingung menentukan arah dan menetapkan pilihan yang tepat.

Banyak sekali kasus-kasus kecil yang menyatakan bahwa pada dasarnya manusia itu terlalu ambisius sehingga rasanya semua ingin di miliki, semua ingin di raup tapi tak seimbang dengan tenaga, kemampuan dan waktu yang juga terbatas.

Jika sudah seperti itu, apa yang terjadi? Bukan hanya bimbang, tapi stress ikut ambil bagian untuk melemahkan semangat kita.

Coba perhatikan produk-produk dipasaran bukan hanya banyak, tapi juga sangat fariatif. Semua vendor berlomba-lomba merebut hati konsumen. Yang paling canggih, paling murah dan paling ”keren” memiliki peluang lebih besar merebut hati konsumen.

Perhatikan juga para pemula yang ingin berbisnis, begitu banyak paket bisnis yang membuat ia merasa bingung apakah benar itu sebuah peluang atau malah akan membuatnya rugi dan berantakan.

Misalkan di Bisnis Online, tawarannya sangat menggiurkan. Saking panasnya, bisa jadi tak satupun yang bisa di eksekusi.

Begitupun di Bisnis micro lainnya, yang banyak bermain di sektor informal. Misalnya buka toko, bisnis makanan, sampai pedagang kaki lima. Yang bisa dikemas dengan ”gaya” yang lebih modern. Saking banyaknya tawaran bisnis, kita tambah bingung dan cemas. Justru makin tidak percaya diri. Akhirnya satupun tak pernah bisa di eksekusi.

Dalam hal lain, karir misalnya, bukan rahasia lagi, para pemburu pekerjaan, berlomba-lomba mencari posisi bagus, gaji besar dan tentu saja gengsinya harus ada. Tapi apa yang terjadi jika harapan tak sesuai dengan kenyataan? Bimbang, stress dan semangat yang ala kadarnya untuk mengerjakan seluruh pekerjaan.terasa banget pengaruhnya.

Intinya, rasa bimbang karena begitu banyak pilihan akan sangat menyiksa diri kita. Membuat kita bagai wasit pemain bulu tangkis saja, yang hanya bisa terdiam dan takjub dengan permainan dua atlet yang menakjubkan.

***

”Lalu bagaimana mengatasi persoalan ini?”

”Mudah saja sebenarnya.”

  • Yang perlu kita lakukan adalah ”Perenungan dan Penetapan”, sebenarnya apa sih Tujuan Anda. Apa sih yang ingin Anda capai?

Jika kita sudah menetapkan sebuah tujuan. Maka kemungkinan untuk merasa bimbang akan lebih mudah untuk dikikis. Setidaknya tujuan yang kita buat bisa menjadi semacam panduan dasar. Bisa menjadi ”Peta Biru” kita untuk melangkah lebih jauh dan lebih percaya diri. Bersemangat dan yakin akan setiap keputusan yang diambil.

Tentukan satu saja tujuannya. Jangan terlalu banyak. Sebab itu bisa mengganggu konsetrasi. Mungkin maksud kita bagus, agar bisa lebih elastis. Tapi belum tentu. Bisa jadi justru menetapkan banyak tujuan hanya akan membingungkan. Bukannya menolong malah menambah masalah baru. Cara mudahnya, selipkan prioritas disitu.

Jadi untuk sementara, alangkah bijaksananya untuk menetapkan satu tujuan yang jelas, spesifik dan fokus.

  • Langkah selanjutnya adalah ”Memberi Motif”.

Maksudnya, berikanlah alasan yang jelas. Kenapa anda memilih tujuan itu. Ikuti kata hati, sesuaikan dengan diri sendiri, realisitis dan mungkin untuk realisasinya. Jawaban-jawaban anda akan sangat menentukan apakah itu benar-benar tujuan yang ingin anda capai.

Hindari untuk menetapkan tujuan yang terlalu muluk. Biar sederhana tapi kita happy melakukannya itu lebih baik, daripada berkesan hebat tapi menyiksa, itu tidak membantu.

Bisa-bisa balik lagi ke rasa bimbang yang baru dan stress yang baru yang lebih berkelas. Tapi judulnya sama saja. Tetap bimbang dan stress.

Selain itu, hindari tujuan yang sentimentil. Misalanya karena ingin menunjukin ke mertua bahwa saya juga bisa, atau nunjukin ke orang lain bahwa saya mampu. Itu bukan tujuan anda. Tapi itu sifat sombong yang kontra-produktif. Arahkan energi untuk kebaikan diri sendiri.

Jika sudah terbiasa, bukan mustahil kita bisa meningkatkan tahapan dan kualitas tujuan yang ingin kita gapai. Selangkah demi selangkah. Pelan tapi pasti. Alon-alon asal klakon.

Jadi kesimpulannya,

Bimbang itu dipicu oleh banyaknya pilihan yang membuat kita merasa sesak. Maka Menetapkan Tujuan yang jelas, spesifik serta memberikan motif-motif yang beralasan, realisits dan mungkin untuk di realisasikan akan sangat membantu kita dari perasaan gunda gulana.. dan memberikan harapan hidup yang lebih jelas, terarah dan tentu saja Happy…

Semoga membantu yah…

Sumber:Blog Motivasi FM

by by Fadly Mui